Flash Sale
Setiap Selasa 18:00–21:00
Segera Dimulai
Sisa Waktu:
00:00:00

Kategori Produk

Temukan berbagai koleksi pilihan kami

Produk Terlaris

Paling diminati oleh pelanggan kami

Lihat Semua Katalog >>

Testimoni Pembeli

Apa kata mereka tentang kami

Artikel Terbaru

Berita dan informasi terkini

Gramaparau : Kibar Semangat, Sebar Kebaikan
30 Jan 2026

Gramaparau : Kibar Semangat, Sebar Kebaikan

Bandung (13/1/2026) Hip hop kerap dipahami sebagai musik ekspresi generasi muda perkotaan. Namun bagi Gramaparau, hip hop menjadi medium untuk membaca dan merawat ingatan sejarah Islam yang jarang dibicarakan di ruang publik. Melalui karya-karyanya, ia berupaya menghadirkan narasi alternatif tentang tokoh, peristiwa, dan pengalaman umat Islam dari sudut pandang personal dan reflektif.Dua lagu yang kerap dibicarakan dalam diskusi komunitas adalah Sabda Palagan dan Nakba. Dalam Sabda Palagan, Gramaparau merangkai lirik yang terinspirasi dari kisah-kisah sejarah dan tokoh Islam yang menurutnya kurang mendapat perhatian. Lirik lagu tersebut tidak disampaikan sebagai pelajaran formal, melainkan sebagai ajakan untuk kembali bertanya dan mencari tahu.“Banyak cerita yang saya temui justru lewat membaca dan diskusi kecil. Dari situ muncul keinginan untuk menyampaikannya lewat musik,” ujar Gramaparau dalam sebuah forum komunitas. Ia melihat hip hop sebagai bahasa yang dekat dengan anak muda dan memungkinkan sejarah disampaikan secara lebih cair.Sementara itu, single Nakba lahir dari ketertarikan Gramaparau terhadap isu kemanusiaan di Palestina. Lagu tersebut merepresentasikan upayanya memahami tragedi kemanusiaan sebagai bagian dari sejarah yang masih berdampak hingga kini. Dalam karyanya, Gramaparau memilih pendekatan naratif dengan menyoroti sisi manusia dan memori kolektif, bukan sebagai seruan politik.Melalui kedua lagu tersebut, Gramaparau mencoba menghadirkan sisi lain dari sejarah Islam—bukan untuk menggantikan narasi yang ada, melainkan membuka ruang dialog. Ia berharap pendengar dapat melihat musik sebagai pintu masuk untuk mengenal sejarah secara lebih luas dan kritis.Bagi Gramaparau, hip hop bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang arsip dan percakapan. Di tengah derasnya informasi, karya-karyanya menjadi bagian dari upaya menyebarkan nilai Islam untuk menjaga ingatan, memahami identitas, dan memaknai sejarah Islam melalui bahasa seni (Vick/13/1/2026).

Baca Selengkapnya
Berkumpul untuk Bertumbuh: Iman, Ilmu, dan Masa Depan Anak Muda
30 Jan 2026

Berkumpul untuk Bertumbuh: Iman, Ilmu, dan Masa Depan Anak Muda

Bandung, 6/1/2026 — Di tengah derasnya arus informasi yang kadang membingungkan, banyak anak muda merasakan satu hal yang sama: ingin cerdas memilah fakta, sekaligus tetap peduli dan manusiawi. Dalam podcast Rumah Komunitas bertema “Berkumpul untuk Bertumbuh: Iman, Ilmu, dan Masa Depan Anak Muda”, Ustad Muda Rhoyan Mutaqin mengajak generasi muda berdialog tentang bagaimana iman, ilmu, dan kepedulian sosial bisa bersatu dalam kehidupan mereka sehari-hari?.Rhoyan Mutaqin membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang dekat dengan pengalaman anak muda: bagaimana menjadi kritis tanpa menjadi sinis? Menurutnya, sikap kritis adalah kemampuan memilah informasi secara rasional dan beradab. Anak muda, katanya, harus waspada agar tidak mudah terjebak hoaks, sekaligus tidak berubah menjadi skeptis terhadap semua hal.“Agama bukan alat untuk merasa paling benar. Pemahaman yang baik harus menumbuhkan kerendahan hati dan kepedulian,” ujarnya. Pesan itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa sebagian orang kadang menggunakan agama untuk menutup diskusi atau menghakimi.Dalam percakapan itu, Rhoyan Mutaqin juga menyentuh satu ironi: tingginya tingkat pendidikan tidak selalu berbanding lurus dengan kepedulian sosial. Banyak orang yang berilmu tetapi kehilangan empati. Baginya, ilmu tanpa moral ibarat cahaya yang kehilangan fungsi: terang, tetapi tidak membimbing. Karena itu, anak muda perlu membangun kecerdasan intelektual sekaligus kematangan moral yang mampu menjawab tantangan sosial di sekitarnya.Lebih dari sekadar tempat ngobrol, Rhoyan Mutaqin memandang komunitas sebagai ruang nyata untuk bertumbuh bersama. Komunitas berbasis nilai Al-Qur’an dan Hadis, menurutnya, bisa menjadi ruang belajar yang terbuka, relevan, kritis, dan membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Di komunitas, anak muda bisa saling menguatkan, bertanya tanpa takut dihakimi, dan berbagi pengalaman hidup, termasuk soal tanggung jawab dan integritas.Diskusi juga menyentuh persoalan kemandirian ekonomi anak muda. Rhoyan Mutaqin melihat komunitas sebagai tempat membangun kerja sama yang jujur dan amanah, sesuai nilai Islam. Dengan begitu, kemandirian ekonomi bukan sekadar soal penghasilan, tetapi tentang membangun karakter dan rasa tanggung jawab bersama.Topik lain yang dibahas adalah bagaimana anak muda menghadapi perbedaan pandangan, terutama di ruang publik dan politik Rhoyan Mutaqin mengajak generasi muda untuk tidak tenggelam dalam emosi sesaat atau polarisasi tajam. Perbedaan, baginya, seharusnya menjadi cara memperkaya pandangan, bukan memecah hubungan. Dialog yang sehat, berpijak pada nilai moral dan saling menghormati, menjadi kunci agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik.Berbicara tentang kemerdekaan, Rhoyan Mutaqin menekankan bahwa kebebasan sesungguhnya bukan hanya soal bebas memilih atau bebas bersuara, tetapi mampu bertanggung jawab atas pilihan itu, baik secara iman, akal, dan akhlak. Komunitas bernilai, menurutnya, dapat membantu anak muda tetap merdeka secara batin sekaligus matang secara sosial.Podcast Rumah Komunitas menjadi satu dari sekian ruang dialog yang menawarkan cara berpikir dan bersikap untuk anak muda yang ingin bertumbuh: cerdas dalam ilmu, rendah hati dalam iman, dan peduli dalam tindakan. Di tengah dunia yang kian ramai dan kompleks, ruang seperti ini menjadi tempat untuk tetap waras, saling belajar, dan membangun masa depan yang lebih bermakna (Vick/6/1/2026).

Baca Selengkapnya
Beauty Is All About You”: Skincare Bukan Sekadar Standar Cantik
18 Jan 2026

Beauty Is All About You”: Skincare Bukan Sekadar Standar Cantik

Bandung (15/1/2026) Bagi banyak perempuan, skincare sering terasa seperti kewajiban: harus cerah, harus glowing, harus mengikuti tren yang terus berubah. Tapi di balik rutinitas itu, banyak yang diam-diam merasa capek, insecure, dan kelelahan menghadapi ekspektasi standar cantik.Cerita ini dibahas dalam podcast UMKM Merdeka bertajuk “Perempuan dan Skincare”, menghadirkan Ela Suhenda, owner brand lokal Denox Glow, dan Salsa, distributor yang  menyebarkan produk ke berbagai daerah.Ela mengungkapkan, sebagai perempuan yang juga menjalankan brand, ia sering melihat perempuan merawat kulit bukan hanya karena kebutuhan, tapi karena tuntu  tan sosial. “Banyak yang ingin terlihat sempurna, tapi justru merasa capek dan nggak cukup,” kata Ela. Dari situlah lahir filosofi Denox Glow: merawat diri itu proses, bukan tuntutan.Salsa menambahkan perspektif dari lapangan. “Kalau orang membeli produk, mereka sering cerita tentang rasa bingungnya—ikuti tren atau nggak. Produk seperti Denox Glow membantu mereka tenang, nggak terburu-buru, dan nggak merasa kalah,” ujarnya. Sebagai distributor, Salsa melihat langsung bagaimana perempuan mulai menghargai proses merawat diri, bukan hanya hasil instan.Pendekatan ini tercermin dalam tagline brand, “Beauty Is All About You”. Bagi Ela, tagline ini adalah pengingat bahwa kecantikan sejati bukan soal membuktikan diri ke orang lain. “Cantik itu pengalaman personal. Nggak ada ukuran sama untuk semua perempuan,” jelasnya. Salsa menambahkan, pengalaman perempuan yang merasa nyaman dengan diri sendiri membuat distribusi produk bukan sekadar jualan, tapi juga menyebarkan pesan positif tentang self-care.Lewat podcast ini, Ela dan Salsa ingin menekankan bahwa skincare bisa menjadi ruang aman. Perempuan boleh pelan, boleh lelah, dan boleh memilih caranya sendiri dalam merawat diri. Di tengah tren yang serba cepat, pesan itu terasa sederhana tapi penting: kecantikan dimulai dari diri sendiri, bukan ekspektasi orang lain (Vick/15/1/2026) 

Baca Selengkapnya

Kategori

Memuat…